Rabu, 25 Juli 2012

Motivasi Pelayan

PELAYAN DAN MOTIVASINYA (2Korintus 4:1-4) Akhir2 ini dunia media kita sangat disibukan dengan pemberitaan tentang berbagai kasus di seputar KPK, entah itu persoalan Bibit dan Chandra tetapi juga kasus Antasari. Masyarakat pun dibuat bertanya2 apa motivasi Antasari membunuh Nasarudin atau apa motivasi polisi terus ngotot memproses Bibit dan Chandra? Motif dibalik semua peristiwa ini menjadi faktor penting sebagai alat bukti untuk menjerat seseorang untuk dijadikan tersangka. Pada dasarnya motivasi itu mengandung pengertian: Sebuah dorongan psikologis yang mengarahkan seseorang ke arah satu tujuan. Motivasi menjadi dorongan (drive force) terhadap seseorang agar mau melaksanakan sesuatu. Bob Gordon dalam bukunya yang berjudul Master Builders mengatakan bahwa pada umumnya orang-orang Kristen dalam melakukan sesuatu orang dimotivasi oleh hal-hal antara lain: Motivasi yang bersifat negatif didorong oleh: paksaan, kemarahan, kecemburuan, hati yang luka, ketakutan, rasa besalah, kebencian, dll. Yang bersifat netral: kebahagiaan, kehormatan, persaingan, kegairahan, kesenangan, dll. Yang positif: kesalehan, kekudusan, kebenaran, sukacita, takut akan Allah, belas kasihan, dll. Saudara2, di dalam pelayanan juga motivasi seseorang perlu jelas, dengan dasar apa ia melayani? Kalo tanpa motivasi maka pelayanannya pasti mandek atau di sisi lain ada motivasi, tetapi salah motivasinya dan hanya untuk keuntungan diri sendiri. Akibatnya, tidak jarang kita akan menemukan adanya pelayanan dari orang-orang tersebut yang tidak berjalan sebagaima mestinya dan menjadi batu sandungan bagi orang lain. Seandainya seseorang memiliki motivasi yang benar dalam melayani Tuhan, maka tentu saja pelayanannya dapat menjadi berkat bagi semua orang. Jika demikian dalam pelayanan seseorang motivasi apa yang seharusnya dimilikinya? Pada dasarnya memang pelayanan dan motivasi itu memiliki kaitan yang sangat erat karena keduanya saling berkaitan satu sama lain. Motivasi pelayanan yang benar dari seseorang itu dapat dipengaruhi oleh pemahamannya akan makna yang terkandung di dalam arti kata pelayanan itu sendiri. Saya kira kalau kita bicara soal motivasi pelayanan maka kita bisa belajar dari seorang tokoh dalam PB yang sangat dapat memberi inspirasi kepada kita, dia lah rasul Paulus. Apa-apa saja yang dapat kita pelajari dari motivasinya dalam melayani? 1. Paulus memandang pelayanan itu sebagai anugerah Tuhan. Saudara, dalam 1Tim 1:12-13,15-16b, Paulus mengungkapkan yang begitu dalam kepada Tuhan Yesus Kristus yang telah memilihnya, mempercayainya, mengangkatnya, dan telah menguatkan dirinya dalam mengerjakan pelayanan bagi Tuhan. Ini adalah sebuah anugerah Tuhan yang luar biasa yang diperolehnya sebagai sebuah kemurahan Tuhan yang tak terbayangkan dalam hidupnya. Bagaimana tidak, kalau ia kembali mengingat kehidupannya di masa lalu sebelum dimenangkan oleh Kristus, maka tidak ada kata yang dapat terungkapkan selain mengucap syukur atas kemurahan Tuhan dalam hidupnya. Paulus menggambarkan bagaimana ia dengan tegas mengingatkan siapa dia sebagai orang yang berdosa. Dirinya dulu adalah seorang penghujat gereja, ia telah melontarkan kata-kata pedas dan kemarahan kepada orang-orang Kristen. Ia adalah penganiaya yang bermaksud memunahkan gereja dengan segala upaya. Dalam Kis. 22:4, dia mengatakan telah menganiaya pengikut jalan Tuhan sampai mereka mati, laki-laki dan perempuan ditangkap dan dipenjarakan. Dalam ayat 19 dikatakan bahwa dia masuk ke rumah ibadat dan memasukkan orang percaya ke dalam penjara dan menyesahnya. Bahkan dalam psl 26:12, dikatakan bahwa dalam rumah ibadat dia menyiksa umat Tuhan dan memaksanya untuk menyangkal imannya. Paulus mengambarkan dirinya sebagai seorang yang ganas, kata Yunani yang digunakan untuk “ganas” adalah hubrist─ôs. Kata ini menunjukan kesombongan yang sadis, melukiskan orang yang berusaha menyakiti semata-mata demi menikmati hasil dari perbuatan menyakiti itu. Kata benda abstrak yang berhubungan dengannya adalah hubris yang didefinisikan oleh Aristoteles, melukai atau menyusahkan orang lain dengan cara sedemikian rupa sehingga orang lain dipermalukan karenanya. Sedangkan pelakunya tidak memperoleh keuntungan apa-apa kecuali rasa senang atas kekejaman yang dilakukannya dan atas penderitaan yang dialami orang lain. Itulah sebabnya bahkan ia memandang dirinya sebagai orang yang paling berdosa di antara orang berdosa dan dosa itu mematikan. Paulus sungguh-sungguh menyadari bahwa betapa tidak layaknya hidupnya di hadapan Tuhan. Itulah sebabnya ia mengaggap oleh kemurahan Tuhanlah ia telah menerima pelayanan ini (2Kor. 4:1), sehingga ini yang menjadi motivasinya untuk memberikan hidupnya melayani Tuhan dengan sepenuh hatinya. 2. Paulus melayani bukan untuk mencari nama baik. Saudara2, mari membaca Gal. 1:10, Paulus tidak mencari kesukaan manusia atau perkenan dihadapan manusia, tetapi dia hanya mencari kesukaan Allah karena dia adalah hamba kebenaran, hamba Allah dan bukan hamba manusia. Di dalam 1Tes 2:4 dia berkata bahwa mereka berbicara bukan untuk menyukakan manusia melainkan untuk menyukakan Allah yang menguji hati. Dalam ayat 5 Paulus juga menegaskan bahwa mereka tidak bermulut manis, tidak mempunyai maksud loba, dan Allah yang menjadi saksinya kalau mereka pernah punya maksud2 yang tidak murni. Apakah pelayanan kita di Perkantas untuk mencari muka kepada orang lain? 3. Paulus tidak mencari pujian dari pelayanannya. Saudara2, dalam 1Tes. 2:6, Paulus katakan bahwa dia tidak pernah mencari pujian sedikit pun dari siapa pun walaupun dia punya kesempatan untuk melakukan hal ini sebagai seorang rasul Kristus. Dia mengatakan bahwa kalau dia memberitakan Injil, dia tidak punya alasan untuk memegahkan diri sebab itu adalah keharusan baginya. “Celakakalah aku jika aku tidak memberitakan Injil.” Paulus sangat menyadari bahwa dia sama sekali tidak berhak untuk mencari pujian dari pelayanannya karena ini memang tanggungjawabnya, dia tidak cari popularitas. Melayani di siswa, mahasiswa atau alumni jangan sekali-kali pikir mau cari pujian. Kita rentan untuk tergoda jatuh dalam kemegahan diri, ketika kita bagus dalam khotbah, memberikan training, atau ketika kita adik-adik KTB kita banyak yang berhasil dalam pelayanan dan kita merasa bahwa ini adalah hasil pelayanan kita sehingga kita mengaharapkan reward dari apa yang kita kerjakan. Jika kita bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan (2Kor.10:17,18) 4. Paulus tidak mencari keuntungan dalam pelayanan. Saudara, mari kita baca 2 Kor. 2:17, Paulus mengatakan bahwa dia tidak sama dengan orang lain yang mencari keuntungan dari orang lain. Hal ini seperti yang dilakukan oleh para guru palsu yang telah menyusup di antara jemaat Korintus, mereka perilaku yang tidak beres. Mereka adalah orang-orang yang tidak jujur dan sombong, pemimpin mereka mengambil keuntungan uang dari anggota jemaat-jemaat yang gampang ditipu. Bahkan dalam 1Kor.9:17,18 Paulus menegaskan bahwa dia tidak mau menerima upah sebab ia tidak mengerjakannya berdasarkan kehendaknya sendiri tetapi ini merupakan tugas penyelenggaraan yang dipercayakan kepadanya. Sebenarnya ia pantas untuk mendapatkan upah sebagai seorang pemberita Injil tetapi ia tidak mau mengambil haknya. Ini luar biasa, Paulus sangat menjaga kewibawaan seorang hamba Tuhan, dia membiayai pelayanannya sendiri sebagai seorang tukang tenda. Dalam 1 Tes. 2:9, dikatakan bahwa dia bekerja keras siang malam supaya jangan menjadi beban bagi siapa pun. 5. Paulus melakukan pelayanan dengan dasar kasih. Saudara2, dalam 1Kor. 16:14 Paulus berkata, “Lakukanlah segala pekerjaanmu dalam kasih.” Paulus memiliki motivasi kasih dalam mengerjakan pelayanannya, itu adalah sebuah dorongan yang sangat tepat bagi seorang pelayan Tuhan. Ini adalah motif Allah untuk menyelamatkan manusia yang berdosa, oleh karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya Yesus Kristus bagi manusia yang berdosa. Ketika Yesus berjalan masuk ke Yerusalem, hati-Nya dipenuhi oleh belas kasihan, Ia menangis melihat banyak domba yang tidak bergembala. Ia sangat mengasihi orang yang berdosa. Bagaimana dengan kita? Adakah kita memandang pelayanan kita dengan kasih? Motivasi yang benar adalah ketika kita memandang jiwa-jiwa yang kita layani di siswa, mahasiswa, dan alumni dengan kasih Kristus. Jika kita mengasihi orang-orang yang kita layani dengan sungguh-sungguh, maka tentu saja kita akan berusaha memberikan yang terbaik untuknya. 6. Paulus berani bayar harga untuk pelayanannya. Saudara2, dalam 2Kor. 6:4-6, Paulus menceritakan tentang penderitaan yang harus ditanggungnya sebagai seorang pelayan Tuhan bukan hanya penderitaan fisik saja tetapi juga penderitaan batin karena disalah mengerti, dihina, diumpat, dan berbagaipenderitaan lainnya. Tetapi walaupun sedemikan berat penderitaan yang harus dialaminya tetapi dia tidak berkeluh kesah karena baginya hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Bahkan dalam pelayanannya dia katakan dia rela mati bagi orang-orang yang dilayaninya. Sungguh sebuah teladan yang luar biasa dari seorang yang rela bayar harga untuk pelayanannya. Ini adalah sebuah motivasi yang sungguh-sungguh indah dari seorang pelayan Tuhan. Lalu bagaimana dengan kita? Berapa banyak kita sudah rela untuk bayar harga bagi pelayanan kita? Tetapi jujur saya sangat menghargai teman2 semua yang sudah memberi perpuluhan waktunya untuk terlibat dalam pelayanan Perkantas, pelayanan ini tidak populer yang ada justru harus siap korban waktu, uang, tenaga, pikiran, perasaan dan lain-lainnya. Biarlah itu boleh menjadi persembahan yang berbau harum dihadapan-Nya. Saudara2 jika demikian mari melihat dahulu beberapa kata dalam Alkitab yang dapat berarti pelayanan, yaitu antara lain: 1. Doulow (douloo) – melayani sebagai hamba (budak!). Pada zaman PB, seorang budak dapat dibeli atau dijual sebagai komoditi. David Watson menyatakan: “Seorang budak adalah seorang yang sama sekali tidak memiliki kepentingan diri sendiri. Dalam ketaatan penuh kerendahan hati ia hanya bisa berkata dan bertindak atas nama tuannya. Dalam hal ini tuannya berbicara dan bertindak melalui dia”. Benar-benar tak berdaya. Sebagai orang percaya, kita sekalian adalah orang-orang yang telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba (doulos) kebenaran (Roma 6:18), menjadi hamba Allah (Roma 6:22). 2. Diakonew (diakoneo) – melayani sebagai pelayan dapur, yang menantikan perintah di sekitar meja makan (Mat. 8:15; Efs. 4:12). Ini bukan pekerjaan yang menyenangkan, karena seringkali ia akan menerima dampratan dari orang yang merasa kurang puas dilayani. Dalam arti luas kata ini menyatakan seseorang yang memperhatikan kebutuhan orang lain, kemudian berupaya untuk dapat menolong memenuhi kebutuhan itu. Orang bisa saja bekerja sebagai budak (doulos) dan tidak menolong seorangpun; tetapi jika ia seorang diakonos, ia berkaitan erat dengan upaya menolong orang lain (Luk 22:27; Yoh. 12:26; ! Tim. 3:13) 3. Litourgos (litourgos) – melayani orang lain di depan publik (Kisah 13:2). Pelayanan ini dilakukan kepada sejumlah orang pada saat yang bersamaan, sehingga harus direncanakan dan terus ditingkatkan. Dalam hal ini jemaat menuntut sebuah pelayanan yang dikerjakan dengan kesungguhan dan yang terbaik. Saudara2, saya yakin makna dari ketiga arti kata pelayan ini juga adalah bagian dari prinsip dan motivasi Paulus dalam pelayanannya, ia telah menjadi seorang doulus, diakonos, dan liturgikos dalam pelayanannya, lalu bagaimana dengan kita? Apakah kita juga telah menjadi seorang pelayan Tuhan yang telah menjadi hamba atau doulos Kristus, menjadi seorang diakonos yaitu pelayan yang selalu rindu menolong orang lain dalam memenuhi kebutuhan orang yang dilayaninya, dan juga sebagai seorang litougikos yang disorot oleh banyak orang dan yang motivasinya dapat dipertanggungjawabkannya dihadapan orang lain? Paulus dengan sungguh mengerjakan pelayanannya oleh karena ia menyadari akan kasih Allah dalam hidupnya. Saudara2, Suatu kali seorang pengkhotbah besar bernama Jonathan Edward bertanya kepada para calon pengabar Injil di Cina, "Apa motivasimu menjadi pengabar Injil?" Sebagian menjawab, "Karena saya ingin mempersembahkan jiwa-jiwa bagi Yesus." Jawab Jonathan Edward, "Tidak cukup!" Terhadap pertanyaan yang sama sebagian lagi menjawab, "Saya ingin membawa Injil bagi sesama."Yang lain lagi, "Saya ingin mengabarkan jalan keselamatan kepada sesama." "Saya ingin bersaksi tentang Yesus Juru Selamat." Tetapi semua jawaban tersebut ditanggapi Jonathan Edward dengan berkata, "Tidak cukup! Tidak cukup mengabarkan Injil dengan motivasi-motivasi seperti itu!" Mengapa? Jonathan Edward menjelaskan, "Motivasi terpenting dalam pelayanan adalah karena kita mencintai Yesus. Tanpa mencintai Yesus, pelayanan kita akan mudah patah dan jatuh di tengah jalan! "Apakah kalian mencintai Yesus?" Ini adalah sebuah pertanyaan yang penting bagi kita. Saudara2, Jonathan Edward memiliki prinsip motivasi yang sama dengan apa yang menjadi motivasi Paulus dalam pelayanan, yaitu cintanya kepada Kristus yang sudah mengasihi dia telebih dahulu dan memberikan nyawa-Nya baginya. Bukankah tentu saja pandangan ini seharusnya juga berlaku bagi semua pelayan Tuhan? Lalu apa yang menjadi motivasi kita melayani di Perkantas? Apakah karena kita mencintai Yesus? Jika kita mencintai Yesus maka tentu saja itu akan membuat kita mengasihi siswa, mahasiswa, dan alumni yang kita layani. Kita akan melayani mereka dengan sepenuh hati kita tanpa mencari keuntungan apa pun bagi diri pribadi kita. Dengan motivasi yang murni inilah kita memiliki kekuatan hati seorang pelayan Tuhan. Biarlah kita boleh memiliki motivasi yang benar sebagai seorang hamba yang melayani Tuhan kita. Menjadi seorang pelayan Tuhan yang memiliki motivasi yang bersih, murni dan tidak bercacat dihadapan Tuhan. AMIN

Tidak ada komentar:

Posting Komentar