Senin, 29 Oktober 2012

PA Induktif

PA INDUKTIF

Pendahuluan


1.      Pentingnya Alkitab bagi hidup kita.
·         Mat.4:4  :
·         Maz.119:105  :
·         Pengk.12:13  :
·         Yos.1:8  :
·         2 Tim.3:15-17  :
·         Ro.12:2  :
·         Maz.119:9-11 :
·         Maz.119:98-100 :
Kesimpulan: Alkitab bukan sekedar pelengkap hidup, tetapi merupakan kebutuhan utama bagi kehidupan yang benar,  berarti dan bernilai kekal.

2. Cara mempelajari Alkitab
a.      Pentingnya sikap yang rendah hati, haus dan taat (Mat.5:3, 6; Maz.32:9-10; Yoh.7:17). Rendah hati untuk dibimbing oleh Roh Kudus secara pribadi maupun melalui tubuh Kristus.
b.      Perlunya metoda PA:
·         Karena Alkitab ditulis dalam konteks sejarah, budaya, bahasa, gaya penulisan dan sikon yang berbeda.
·         Metoda PA memperkaya kita dalam membaca isi Alkitab, sehingga lebih hidup dan mengurangi rasa bosan.
Ada berbagai metoda mempelajari Alkitab, walaupun tidak ada metoda yang sempurna. Kita perlu sadari ada metoda yang lebih riskan/ berbahaya dibanding dengan yang lainnya. Salah satu metoda yang telah menjadi berkat bagi banyak orang dan juga lebih aman, yaitu PA Induktif.


APA  ITU PA INDUKTIF?


PA induktif menggunakan 3 tahap dalam menelaah Alkitab:
1.      Tahap Observasi (Pengamatan)
2.      Tahap Interpretasi (Penafsiran)
3.      Tahap Aplikasi (Penerapan)

PA Induktif menggunakan pola scientific untuk mencegah kesimpulan yang subyektif atau menyimpang.  Tentu dengan sikap rendah hati  dan minta pertolongan Roh Kudus.


MENGAPA PA INDUKTIF?
            Kalau dilakukan dengan benar, PA Induktif memiliki beberapa kelebihan, a.l.:
1.      Lebih obyektif.
Penekanan pada apa yang dikatakan Alkitab daripada apa yang dikatakan orang atau diri kita. Mengurangi bahaya subyektivisme dan membantu dalam penafsiran agar lebih obyektif.
2.      Lebih aktif dan atraktif.
Menolong kita menyelidiki Alkitab secara lebih aktif. Metoda ini juga menarik,   karena menolong kita bukan hanya lebih menghargai teks Alkitab tapi juga dalam melihat relevansi ajaran Alkitab bagi hidup kita pada masa kini.
3.      Lebih jadi berkat.
Bagi diri kita dan orang lain yang kita layani atau disekitar kita. Karena bukan hanya menekankan pada pengetahuan dan pengertian, tapi juga pada penerapan (lihat: Yos.1:8; Yak.1:25). Ini sejalan dengan ajaran Tuhan Yesus agar kita jadi pelaku Firman, bukan pendengar saja (Mat.7:24-27).


BAGAIMANA MELAKUKAN PA INDUKTIF?


            PA Induktif dilakukan dengan melakukan ketiga tahap itu secara sistimatis atau simultan dengan seksama.

Tahap 1:  OBSERVASI  (What does the text say?)

Tahap pertama dari PA Induktif yaitu mencari apa yang dikatakan oleh teks.
Proses ini seperti yang dilakukan oleh ilmuwan dalam mengobservasi sesuatu, atau oleh seorang detektif dalam menyelidiki suatu kejadian atau kasus. Mereka baru menarik kesimpulan setelah mengumpulkan semua data atau petunjuk secara teliti. Sebab tanpa pengamatan yang akurat, maka sulit menafsirkan secara akurat juga. Observasi adalah upaya untuk melihat apa yang ditulis oleh penulis seteliti mungkin.

Prinsip dan Cara Observasi Teks


1.      Baca teks beberapa kali (paling tidak 3 kali). Get an overview!
Seorang profesor berkata: “Our experience over many years in college and seminary teaching is that many people simply do not know how to read well”[1]

2.      Gunakan pertanyaan:
            Sebagai permulaan kita bisa gunakan pertanyaan 5W + 1H:
            What?   : Apa kejadiannya? Apa yang jadi ide/ tema utama?
            Where? : Di mana itu terjadi? Di mana penulis? Pembaca?
            When?   : Kapan itu terjadi?
            Who?     : Siapa saja yang terlibat? Siapa mereka? Siapa pemeran utama?
            Why?     : Kenapa itu dilakukan/ dikatakan/ ditulis?
            How?     : Bagaimana itu terjadi? Bagaimana keadaan pemeran utama? Penulis? 
                              Pembaca?

3.      Perhatikan (khususnya teks yang non cerita):
-          Kata-kata yang diulang (repetition) atau dapat penekanan (emphasized)
-          Kata-kata penghubung: dan, tetapi, karena, karena itu, sehingga, jikalau, supaya..
-          Kata kerja, kata benda, kata pengganti.
-          Pemakaian ilustrasi, kutipan, kiasan, perumpamaan, simbol,...
-          Gaya penulisannya: Langsung? Tidak langsung? Sistimatis? Spiral?
Temukan: Kata kunci (lihat dari kata-kata penting/diulang), kata-kata yang sama dan yang tidak (kontras), sebab-akibat, alasan/ tujuan penulisan, tema utama.

Observation is the art of seeing


Semakin cermat kita mengamati isi teks, semakin menolong kita dalam menafsirkan dan memahami isi Alkitab. Karena Alkitab adalah tulisan yang diilhami Allah dan merupakan salah satu pemberian yang berharga dari Allah kepada kita, maka sangat layak bagi kita untuk mempelajarinya secara sungguh-sungguh.


Tahap 2: INTERPRETASI  (What does it mean?)

Interpretasi adalah upaya menafsirkan apa yang dimaksudkan oleh teks. Maksud utama dari interpretasi adalah untuk menemukan apa yang dimaksud oleh penulis dalam menuliskan itu kepada pembaca pada waktu itu.
            Seringkali ini merupakan tahap yang tersulit dalam PA Induktif. Ada banyak hal yang bisa menyebabkan kita salah menafsirkan teks, bahkan tanpa kita sadari. Misalnya: sifat kita yang cenderung subyektif (beranjak dari pengalaman atau pengertian yang kita miliki sebelumnya) dan cenderung menyimpang (beranjak dari interes pribadi atau kelompok kita).  Selain itu, juga karena sifat keberadaan Alkitab yang begitu kompleks dan sangat berbeda dengan kita sekarang, baik dari segi konteks penulisannya (bahasa, pengertian kata-kata, tata bahasa, jenis tulisan), maupun sejarah dan budayanya pada waktu itu, serta kondisi geografisnya (secara politis, geologi, botani dan zoologi). Karena itu, untuk menghindari kesalahan dalam menafsirkan tulisan dalam Alkitab, kita perlu perhatikan beberapa prinsip di bawah ini.

Prinsip Penafsiran Alkitab


1.      Perhatikan jenis tulisannya (Genre)[2]
-          Gaya penulisan (Literary style): apakah tulisan ini berbentuk sejarah (narrative),  surat (epistle)puitiknubuatan atau apokaliptik ?
-          Ekspresi penulisan (Literary expression): apakah perumpamaan, alegoris, kata-kata hikmat?
-    Majas (Figure of speech) : apakah itu antropomorfis, apostrop, eufemis, hyperbol, hypokatastasis, idiom,  meris, metafor, paradoks, personafikasi, pertanyaan retorik, simile.
Jangan pukul ratakan semua bentuk teks di Alkitab. Alkitab terdiri dari berbagai bentuk tulisan. Setiap jenis tulisan mempunyai karakteristik berbeda sehingga perlu ditafsirkan secara berbeda juga. Jadi misalnya jangan sembarangan menafsirkan buku puisi, nubuatan, sejarah, apokaliptik, surat, kata-kata hikmat.

2.      Perhatikan konteksnya :
a.      Konteks budaya dan sejarahnya (Historical context)
- Kapan itu di tulis? Apa konteks budaya dan sejarah pada waktu itu?
   Perhatikan political, economical & religious background pada waktu itu.[3]
- Isu budaya, sosial, politik, kerohanian apa yang perlu diperhatikan? Kenapa?
Ini berkenaan dengan pengertian kata-kata yang dipakai pada waktu itu. Informasi ini biasanya bisa ditemukan dalam Alkitab itu sendiri, namun sering pula dibutuhkan bantuan dari buku lainnya, seperti Ensiklopedia dan atau Kamus Alkitab yang baik. Beberapa jenis Alkitab, seperti NIV Study Bible memberikan sedikit informasi ini, demikian juga beberapa buku tafsiran.

  1. Konteks penulisan (Literary context)
- Apa yang penulis ingin katakan dan kenapa ia katakan tepat di sini?
- Bagaimana teks ini tepat dalam keseluruhan isi berita dari buku itu?
Pada dasarnya, literary context perlu diperhatikan karena kata-kata itu baru mempunyai makna di dalam kalimat. Sebagian besar kalimat di Alkitab baru bisa kita pahami jika kita memperhatikan kalimat sebelum dan sesudahnya (paragraf). Karena itu, menafsirkan satu ayat lepas dari konteksnya bisa sangat berbahaya.  Pertanyaan yang paling penting ditanyakan untuk konteks:  What is the point?[4]

3.      Pemahaman akan isinya (Content)
Ini berkenaan dengan arti kata-kata, penggunaan tata bahasa, pemilihan kata-kata, istilah, ungkapan, atau simbol yang digunakan. Di sini, Alkitab dengan berbagai terjemahan yang lebih akurat sangat penting. Lebih baik lagi jika kita bisa mempelajari bahasa aslinya (Hebrew, Aramaic & Greek). Contoh problema terjemahan: 1 Yoh. 3: 6,9.
Selain hasil observasi yang memadai dan akurat, keterampilan kita menghubungkan, membandingkan data-data yang didapat sangat penting untuk menafsirkan dan menyimpulkan dengan baik. Di sini kita perlu belajar menggunakan pertanyaan secara terampil, baik untuk klarifikasi maupun  implikasi.
Pertanyaan untuk klarifikasi:
Hal ini dapat kita lakukan dengan mengajukan pertanyaan sebagai berikut: (Perlu diingat bahwa tidak semua pertanyaan dapat diterapkan untuk setiap teks)
  1. Apakah bersifat harafiah atau kiasan? Tafsirkan dengan tepat.
  2. Apa yang penulis ingin katakan kepada pembaca?
- Apakah ia memberikan tafsirannya?
- Apakah ia tulis maksud dari penulisannya?
- Apakah dijelaskan bahwa ia memakai perumpamaan, cerita, atau lambang?
  1. Apakah penulis mengutip dari kitab lainnya dari Alkitab?
Darimana itu diambil dan amati konteksnya.
Mengapa penulis mengutip bagian Alkitab tersebut:
- Apakah ia ingin membuktikan sesuatu?
- Apakah itu menggambarkan satu kebenaran tertentu?
- Apakah itu mendukung argumentasi penulis?
  1. Kata-kata:
- Apa pentingnya kata-kata yang diulang itu?
- Apa makna dari kata penghubung: Sebab akibat? Alasan? Tujuan? Kontras?
- Bagaimana pemakaian kata-kata penulis: Puitis? Teknis?  Simbolis?
- Kenapa cukup banyak pembahasan untuk hal itu atau  orang itu ?
- Apa makna dari kata-kata kunci / khusus yang dipakai? 
   Pakai alat bantu untuk lakukan word study.
- Perjelas setiap figures of speech:  Metafor, paradoks, personafikasi, hyperbol,
       idiom, antropomorfis,...  Apa maksudnya?
Gunakan alat bantu (The tools):
Tidak jarang dalam proses memahami isi dari teks dibutuhkan bantuan luar, seperti buku tafsiran Alkitab yang baik. Hanya, gunakan sumber dari luar Alkitab, jika  kita tidak bisa menemukan jawaban dari Alkitab itu sendiri. Paling tidak ada 4 alat bantu yang dibutuhkan dalam mempelajari Alkitab:[5]
1.      Kamus atau Ensiklopedia Alkitab yang baik.
2.      Bible Handbook  yang baik.
3.      Terjemahan Alkitab yang baik.
    1. Tafsiran Alkitab (Commentary) perkitab yang baik.
Buku-buku lainnya seperti Konkordansi, Lexicons, Lexicon aids, Grammars, Atlas, juga sangat membantu untuk  word study, dll.

Pertanyaan untuk implikasi:
Setelah  diperjelas semua isu-isu di atas, maka kita perlu pahami:
-  Apa implikasi dari setiap penemuan penting?
-  Mengapa itu ditulis? Apa maknanya?
-  Apa implikasi atau hasil yang diharapkan dari tulisan ini?

4.      Tafsirkan:
Hubungkan hasil temuan dari pertanyaan-pertanyaan ini. Uji ulang sebelum menarik kesimpulan. Mana yang memiliki data pendukung yang memadai dan mana yang tidak. Pikirkan secara kontekstual dan keharmonisan secara keseluruhan. Penafsiran yang baik memperhatikan keharmonisan tafsiran secara tekstual,   kontekstual dan keseluruhan isi Alkitab. Temukan:
-          Apa maksud penulis menuliskan hal itu kepada pembacanya pada waktu itu.
-          Prinsip-prinsip apa yang kita dapatkan dari bagian itu.

5.      Konsultasikan:
Untuk mengecek seberapa tafsiran kita tepat dan bisa dipertanggungjawabkan, maka sebaiknya kita memeriksa hasil-hasil penafsiran kita dengan buku tafsiran yang baik. Adakah hal-hal yang kita kurang teliti? Apakah ada yang kita salah mengerti karena kekurangan informasi kita akan konteks budaya atau sejarah waktu itu. Adakah kita overlook beberapa kata-kata penting atau konteks penulisannya?             

Hal-hal yang perlu diingat:
·         Jangan memutlakkan apa yang tidak dimutlakkan Alkitab.
Misal: masalah waktu (tanggal, bulan, tahun, jam) kedatangan Tuhan. Sebaliknya, jangan tidak memutlakkan apa yang Alkitab mutlakkan. Misal: kepastian akan kedatangan Yesus yang kedua kali.
·         Hindari mengambil kesimpulan tanpa dukungan data-data yang memadai.
Contoh: bahasa lidah adalah tanda satu-satunya kepenuhan Roh Kudus.
·         Jangan menafsirkan Alkitab lepas dari konteksnya.
Ingat akan pentingnya memperhatikan literary & historical context. Mis.: Luk. 9: 10.
Tafsiran yang benar juga pasti akan harmonis dengan tafsiran Alkitab secara keseluruhan. Jika ada kontradiksi dengan bagian lainnya, maka kita perlu meninjau ulang tafsiran tersebut. Ini disebut prinsip keharmonisan Alkitab.[6]
·         Banyak tulisan di PL baru bisa dimengerti melalui PB.
Demikian jugavsebaliknya banyak tulisan di PB tidak bisa dimengerti tanpa kita mempelajari PL. Ini dikenal dengan prinsip pewahyuan Alkitab secara bertahap (Progressive Revelation). Artinya Allah menyatakan rencanaNya secara bertahap kepada manusia. Untuk memahaminya dibutuhkan studi kedua perjanjian (PB dan PL). Contoh: Kenapa Yesus disebut sebagai anak domba Allah?
·         Hindari penafsiran bersifat alegoris secara tidak tepat.
Misal: Tuhan Yesus masuk kota Yerusalem dengan menunggangi seekor keledai. Atau Daud mengalahkan Goliat dengan lima batu. Penafsiran secara alegoris bisa digunakan jika penulis/pembicara memang memaksudkan demikian. Misalnya: Tubuh Kristus dan Kristus adalah Kepala Tubuh.
·         Perhatikan bentuk majas, jenis tulisan dan pemakaian gaya bahasa.
Bersifat kiasan atau harafiah? Banyak kesalahan dalam penafsiran terjadi karena kita tafsirkan secara harafiah, padahal itu bersifat kiasan.
Contoh: Mar. 9: 43-47 ; Luk. 14: 26,27.
·         Bedakan bentuk hukum dan prinsip.
Seperti perlunya membedakan isi dari bungkusnya. Kesalahan dalam penafsiran karena tidak bisa membedakan hukum atau peraturan dan prinsipnya juga sangat sering terjadi. Biarpun peraturan di Alkitab biasanya dipengaruhi budaya dan sikon tertentu yang terus berubah, tetapi prinsipnya bersifat kekal (tidak berubah). Contoh: Mengenai Sabat. Peraturan akan hari Sabat dibuat untuk manusia, atau manusia untuk Sabat?
·         Sekali lagi: hindari kekurangtelitian membaca teks.
Sehingga menghasilkan penafsiran yang salah. Misalnya: 1 Tim.6:10: Uang adalah akar segala kejahatan. Yak. 4: 13-14: Perencanaan itu tidak perlu atau tidak disukai Tuhan.  Ada berapa buah Roh Kudus?


Tahap 3: APLIKASI (What does it mean to me/us?)
Pentingnya Aplikasi:
Aplikasi firman Tuhan ke dalam hidup kita merupakan hal yang sangat serius. Kalau tidak maka bukan hanya kita menipu diri kita sendiri, tapi juga akan sia-sia.
·         Berkat firman Tuhan baru kita alami dan hidup kita baru berubah jika kita mentaati dan menerapkannya dalam hidup kita (Yak. 1: 22-24).
·         Tuhan Yesus juga berkata bahwa mendengar firman Tuhan tanpa melakukan adalah seperti seorang yang bodoh yang membangun rumahnya di atas pasir (Mat. 7:24-27).
·         Selain itu, jika kita menerapkan firman Tuhan maka kita akan terhindar menjadi orang Kristen yang munafik. Seperti halnya orang Farisi dan para ahli Taurat (Mat. 23: 4,13, 27-28). Kita akan jadi batu sandungan bagi orang lain.

Tujuan dari PA bukan untuk observasi atau interpretasi, tapi untuk diaplikasikan
dalam kehidupan kita.


Prinsip &  Ide Penerapan:
Hati-hati dengan penerapan yang keliru.
- Tahu saja belum menerapkan. Perasaan sudah menerapkan padahal belum.
       - Penerapan yang sekedar melakukan proyek.
1.      Penerapan yang baik harus “inside-out.” Mulai dari kesadaran dan keyakinan, lalu ke sikap, perbuatan dan tindakan,  bahkan ada yang harus jadi kebiasaan dan karakter.
2.      Penerapan yang baik memerlukan keterlibatan seluruh keberadaan kita (pikiran, emosi dan kemauan). Pikiran saja, atau emosi saja, atau kemauan saja tidaklah cukup, dan biasanya tidak akan bertahan lama.
3.      Penerapan yang baik harus bersifat jangka panjang(long term) .
Rasa cepat bosan dan putus asa merupakan musuh utama bagi penerapan yang baik. Distraksi merupakan musuh besar lainnya yang harus diwaspadai. Penerapan yang baik butuh konsentrasi yang penuh dan ketekunan.
4.      Penerapan yang baik tidak hanya bersifat individual, tapi komunal dalam konteks keluarga, teman-teman dan gereja. Kelompok PA merupakan wadah ideal bagi penerapan firman Tuhan. “Berdua lebih baik daripada seorang diri.”(Pengk. 4:9).
5.      Penerapan yang baik yaitu jika kita suka melakukan kehendakNya. Bukan karena kewajiban, takut dihukum, atau karena mau berkat Tuhan saja. 

Empat langkah dalam Penerapan:[7]

1.      Kenali (Know): teks-nya, diri anda, dan dunia sekeliling anda.
2.      Relasikan (Relate): dengan kehidupan anda, keluarga, gereja, pekerjaan dan komunitas anda.
3.      Renungkan (Meditate): secara serius firman Tuhan.
Pertanyaan Penolong  untuk  meditasi:
  • Apakah ada contoh bagi saya untuk diteladani?
  • Adakah pencobaan untuk berbuat dosa yang harus saya hindari?
  • Adakah janji Allah untuk dipegang?
  • Adakah perintah Allah yang perlu saya taati?
  • Apakah ada kehendak Allah yang perlu kulakukan?
  • Adakah persyaratan atau kondisi yang harus kupenuhi?
  • Adakah nilai-nilai, pandangan, sikap, kebiasaan yang saya perlu berubah?
  • Apakah ada teguran bagi saya atas dosa, kesalahan di mana saya perlu bertobat?
  • Adakah doa syukur atau pengakuan dosa yang perlu saya naikkan?
·         Hal apa yang saya pelajari dari bagian Alkitab ini  mengenai:
- Allah: Bapa, dan Anak, dan Roh Kudus?
- KehendakNya bagi saya, keluarga, gereja, negara, dunia?
- CiptaanNya, dosa, pengampunan, pengudusan, iman, kasih dan pengharapan?
- Pelayanan,  pekabaran Injil, pemuridan/pembinaan/pengajaran, misi, …?
Pikirkan langkah penerapan yang konkrit dan praktis.
4. Lakukan (Practise): dengan sungguh dan tekun.
The principles found in a Bible passage are to be lived, not just known and believed [8]


Lokakarya :
PA induktif Narasi : Rut 1

Outline
n  Tragedi yang dialami Rut di Moab (1-5)
n  Naomi dan keluarga mengungsi ke Moab (1-2)
n  Naomi kehilangan suami dan kedua anaknya (3-5)
n  Naomi dalam perjalanan kembali ke Israel (6-18)
n  Naomi menyuruh Rut dan Orpa kembali kepada keluarganya masing-masing (8-13)
n  Orpah pulang, tapi Rut tetap ikut Naomi (14-18)
n  Naomi dan Rut tiba di Betlehem (19-22)

Observasi
n  Who? Elimelekh, Naomi, Mahlon, Kilyon, Orpa, Rut, penduduk betlehem
n  Where? Moab dan Betlehem.
n  Moab berjarak sekitar 60 km dari Betlehem (lihat peta)
n  When? Pada masa-hakim-hakim memerintah atas Israel: pada masa kelaparan di Betlehem hingga masa kelaparan tsb berakhir
Gunakan Outline :
Tips: 1. Gunakan outline sebagai patokan
n  Tragedi yang dialami Rut di Moab (1-5)
n  Naomi dan keluarga mengungsi ke Moab (1-2)
n  Naomi kehilangan suami dan kedua anaknya (3-5)
n  Pertanyaan:
n  Mengapa Naomi sekeluarga mengungsi ke Moab? ……….
n  Apa yg terjadi setelah mereka tiba di Moab? ………………
n  Apakah tujuan pengungsian mereka tercapai? …………..

n  Naomi dalam perjalanan kembali ke Israel (6-18)
n  Naomi menyuruh Rut dan Orpa kembali kepada keluarganya masing-masing (8-13)
n  Orpah pulang, tapi Rut tetap ikut Naomi (14-18)
n  Pertanyaan:
n  Mengapa Naomi menyuruh Rut dan Orpa pulang?.................
n  Mengapa Rut dan Orpa bersikeras ingin ikut Naomi?..............
n  Mengapa Orpa akhirnya pulang sedangkan Rut tetap ikut Naomi kembali ke Israel?..........................................................................
n  Bagaimana penilaian kita terhadap keputusan Orpa? Rut?


Tips 2: Selidiki hal-hal yang mengundang tanda tanya
a) Istilah/ budaya yg asing
n  Mengapa Naomi bicara tentang kemungkinan (ketidakmungkinan) Rut dan Orpa menikah dengan anak-anak yang mungkin (tidak mungkin) ia lahirkan lagi? (ay.11-13)
n  Mengapa Naomi ingin namanya diganti jadi ‘Mara’? (ay.20)

b) Kata atau kalimat tertentu yg diulang-ulang
n  ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi,
n  di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam:
n  bangsamulah bangsaku,
n  Allahmulah Allahku;
n  di mana engkau mati, akupun mati di sana
Rut 1:16-17

Interpretasi (5 P):
  1. Tetaplah setia kepada perintah Tuhan dan percaya kepada pemeliharaan-Nya dalam segala situasi. Jangan mengorbankan kesetiaan kepada Tuhan demi mencari keamanan dan kenyamanan sesaat, karena apa yang dicari belum tentu diperoleh sementara kesetiaan kepadaNya sudah terlanjur dikorbankan.
  2. Kasih sejati ditandai dengan kerelaan untuk menomorsatukan kepentingan orang lain: memberi diri tanpa didasari perhitungan untung rugi, dan bahkan rela dirugikan demi orang yg dikasihi. Kasih yg mulia semacam ini yg perlu dimiliki dalam relasi dengan orang lain.

Aplikasi :
  1. Bersyukur
  2. Bertobat
  3. Berbuat
  4. Berdoa




PENUTUP


Berkat rohani dari Alkitab tergantung pada usaha kita. Semakin giat kita berusaha dalam membangun sikap rendah hati, haus dan taat, semakin banyak berkat yang kita terima. Demikian juga semakin giat kita berusaha menyelidiki isi Alkitab, semakin banyak yang kita peroleh. Semakin giat kita terapkan, semakin jadi berkat. Karena Allah tidak menghargai ketidak seriusan dan kemalasan kita, tapi Ia menghargai kesungguhan hati dan ketekunan kita.
May those who sow in tears, reap with shouts of joy. Those who go out weeping, bearing the seed for sowing shall come home with shouts of joy,


[1] Fee & Stuart, How to Read the Bible For All Its Worth (Grand Rapids: Zondervan, 1993), p.22.

[2] Conner & Malmin, Interpreting the Scripture (Portland: Conner/Malmin Publication: 1976), p. 53.
[3] Ibid., 57.
[4] Fee & Stuart, “How to Read,” p. 55.
[5] Fee & Stuart, “How to Read,” p. 24-25.
[6] John Stott, Understanding the Bible (Grand Rapids: Zondervan, 1972), p. 230-238.
[7] Howard G. Hendricks & William D. Hendricks, Living by the Book (Chicago: Moody Press, 1993), p. 292 – 301.
[8] Jim Wilhoit & Leland Ryken, Effective Bible Teaching (Grand Rapids: Baker Books, 1988), p.148.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar