Minggu, 09 Juli 2017

Setia dengan perkara kecil

Di wilayah layanan Wahana Visi Indonesia ADP Kubu Raya ada isu “keramaian” pada masyarakatnya. Keramaian merupakan kebiasaan masyarakat wilayah ini, dimana ketika ada pesta misalkan perkawinan dan pesta rakyat lainnya, maka pada kegiatan tersebut ada dibuat untuk pasangan pria dan wanita berjoget bersama dengan saling menempelkan tubuh mereka satu sama lainnya dengan diiringi musik. Pesta ini akan berlangsung selama beberapa hari dan anak-anak pun menonton joget tempel ini. Selain itu, ada juga kebiasaan yang mengikuti seperti judi, minum tuak, dll.
Oleh karena itu, maka ADP Kubu Raya melakukan pendekatan kepada masyarakat dengan melakukan beberapa kegiatan untuk membangun system perlindungan anak di masyarakat. Salah satunya dengan mengadakan pelatihan Perlindungan Anak bagi para kader di mayarakat yang telah dilakukan sebanyak 4 kali yang berisi tentang pelatihan perlindungan anak mengenai UUPA dan KHA, pelatihan bagi pelatih mengenai UUPA dan KHA, menjadikan organisasi yang ramah anak, serta pelatihan Perlindungan anak terpadu berbasis masyarakat. Dampak dari pelatihan ini, para kader sudah melakukan kegiatan sosialisasi perlindungan anak di desa yang di managemen oleh para kader sendiri di beberapa desa sehingga masyarakat sendiri ada dalam kesadaran bahwa perlindungan anak harus diupayakan bersama-sama oleh masyarakat sendiri dan juga semakin banyak orang yang terpapar dengan hak anak di desa.
Penulis beberapa kali mendapat kesempatan untuk hadir dalam kegiatan di wilayah layanan ADP Kubu Raya dan Tuhan pertemukan dengan seorang Ibu bernama Katarina Irin sejak awal pelatihan ini dibuat. Penulis bersyukur melihat perkembangan yang signifikan dari Ibu Irin-nama sapaan akrabnya-melihat semangat beliau untuk mensosialisasikan perlindungan anak di desanya.
Siapa ibu Irin? Beliau seorang yang tidak berpendidikan tinggi yang sehari-harinya melakukan pekerjaan ibu rumah tangga yang penampilannya sederhana dan belum terbiasa untuk berbicara di depan banyak orang. Namun setelah dilatih menjadi fasilitator perlindungan anak, maka akhirnya beliau sekarang mampu untuk menjadi seorang fasilitator. Di kesempatan perdananya menjadi fasilitator dengan didampingi penulis seringkali beliau terbata-bata dan meminta konfirmasi dari penulis untuk hal-hal yang disampaikannya. 
Sekarang, sudah beberapa kesempatan penulis melihat Ibu Irin menjdi fasilitator dan udah ada kepercayaan diri yang nampak ketika Ibu Irin memfasilitasi. Selalu Tuhan memakai manusia biasa dalam membuat sejarah. Hanya butuh ketaatan untuk mau dibentuk untuk menolong kita menjadi pribadi yang luar biasa. Melalui kisah ini, penulis menjadi teringat dengan kitab Mat 25:21: “….engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar….”. Seorang ibu rumah tangga yang mau belajar ini akhirnya menjadi fasilitator perlindungan anak didesanya bahkan beberapa waktu yang lalu penulis melihat Ibu Irin telah menjadi aktivis Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat dan mereka bersama-sama membuat sebuah video perlindungan anak yang berjudul “film pendek patbm panogoh” yang diupload di youtube.

Sebagai staf Wahana Visi Indonesia, penulis bersyukur melihat perubahan yang ada di masyarakat. Tuhan menjawab doa kita bersama di ADP Kubu Raya. “Doa kami untuk setiap hati…” menjadi sebuah slogan organisasi yang bermakna bagi penulis. Semoga visi organisasi “Visi kami untuk setiap anak hidup utuh sepenuhnya, doa kami untuk setiap hati, tekad untuk mewujudkannya” juga menjadi bermakna bagi Anda semua. 

Kerjasama diantara Pemerintah Desa penting

Kerjasama diantara pemerintah desa penting”, demikian ucap Pak Yamin (40 th) yang juga adalah ketua Badan Pemerintah Desa Pelempai jaya, wilayah dampingan WVI ADP Melawi, Kalimantan Barat. Penulis bersama team tertarik melakukan perkunjungan bertemu dengan pemerintah desa ini karena pemerintah desa Pelempai Jaya telah mengusahakan supaya 100 % akta lahir dan 100 % ODF (Open Defecation Free-Stop Buang Besar Sembarangan) di desa.
Desa ini  memiliki 4 dusun namun dan pemerintah desanya optimis tahun ini di 4 dusun bisa ODF. Saya  berharap desa bisa jadi percontohan supaya bisa mempengaruhi desa-desa sekitarnya. Kami merasa terbantu dengan kehadiran WVI”, ucap Pak Yamin. Ketika beberapa desa disekitarnya belum bisa mengupayakan ODF dan pemenuhan akta lahir, beliau mengakui kuncinya adalah kerjasama diantara pemerintah desa karena seringkali BPD dan kepala desa tidak sepaham mengupayakan kesejahteraan masyarakat desa
Sejak diawal pelayanan WVI ADP Melawi di desa Pelempai Jaya pada tahun 2013, Pak Yamin ternyata pernah diam-diam mencari informasi mengenai WVI karena identitas organisasi sebagai organisasi Kristen. Namun beruntunglah beliau mengenal salah seorang rekannya yang juga mengenal pelayanan WVI di wilayah dampingan ADP Sambas, Kalimantan Barat sehingga identitas WVI tidak menjadi persoalan baginya. Beliau juga melihat pemikiran tentang anak sejalan dengan pemerintah.

Tantangan yang ditemui Pak Yamin selaku kepala BPD bersama pemerintah desa adalah kurang pemahaman masyarakat mengenai pentingnya WC dan akta lahir serta identitas organisasi, tapi hal ini tidak mempengaruhi mereka. Kerjasama dan pengarahan yang diberikan oleh pemerintah desa akhirnya berpengaruh pada perubahah di masyarakat melalui program-program yang dikerjakan saat ini bersama dengan WVI yaitu: pemenuhan akta lahir, PATBM (Perlindungan Anak Terpadu Masyarakat), Forum Anak, dan perilaku stop buang air besar besar sembarangan. Pak Yamin menyadari bahwa WVI tidak selamanya akan mendampingi desanya, tapi beharap bahwa desanya suatu saat bisa maju karena ada perubahan yang dimulai dari masyarakat dan anak-anak desa yang menjadi fokus pelayanan WVI. Dia berharap, “suatu saat (yang dikerjakannya) bisa bermanfaat bagi orang lain”, ucapnya pada kesempatan kali ini.

Gara-gara WVI, tahu perlindungan anak

Namanya Ibu Jenna (44 th), seorang petani karet yang memiliki tiga orang anak di desa Remayan, wilayah dampingan WVI ADP Melawi, Kalimantan Barat. Sekilas tidak ada yang istimewa dengan ibu ini ketika berjumpa dengannya, namun ibu inilah yang memperjuangkan supaya desanya bisa mendeklarasikan ODF (Open Defecation Free-Stop Buang Besar Sembarangan). Semua rumah di desa Remayan memang akhirnya memiliki WC sebagai buah dari kerja kerasnya bersama pemerintah desa. Selain menjadi kader Perilaku Hidup Bersih Sehat, ibu Jenna juga menjadi kader Posyandu. “Saya ingin masyarakat sadar tentang kesehatan dan itu akan saya turunkan ke anak-anak (saya) supaya jadi berkat”.
Masyarakat desa Remayan memang tinggal di tepi sungai sehingga sudah sejak lama warganya memiliki kebiasaan untuk buang air besar di sungai. Dalam melakukan pemicuan untuk mendorong masyarakat membangun wc memang perlu usaha keras namun sabar karena disadarinya merubah kebiasaan memang tidak mudah. Setelah memiliki wc sendiri dan merasakan sendiri manfaatnya, beliau berharap masyarakat desa juga memiliki wc di rumah masing-masing. Dulu, beliau mengakui sebenarnya sudah pernah putus asa karena kesadaran masyarakat akan pentingnya WC rendah dan dikatakan sombong oleh masyarakat desa namun karena didorong oleh staf WVI dan dukungan suami akhirnya semangat itu tumbuh kembali. Namun sekarang desa Remayang telah terverifikasi sebagai desa ODF, dimana semua rumah di desa sudah memiliki wc. “Terima kasih buat WVI, sekarang masyarakat sudah enak buang air besar di wc”, ucapnya.
Ada dua kisah yang diingatnya sewaktu memperjuangkan pembangunan wc bersama masyarakat desa. Salah satunya adalah ketika ada masyarakat yang tidak memiliki lahan untuk membangun wc dan ibu Jenna harus meminta izin lahan kepada pihak gereja dan akhirnya mendapat persetujuan. Kisah lainnya adalah ketika salah satu rumah yang dihuni oleh seorang nenek janda yang tidak dapat membangun wc karena usia. Beliau mengajak masyarakat desa untuk bergotong-royong membangun wc di rumah tersebut. “seumur-umur ini tidak pernah saya nyangkul, tapi supaya bisa ODF akhirnya nyangkul juga di rumah nenek janda itu ”, sembari mengingat kisah tersebut.

Gara-gara WVI tahu perlindungan anak. Dulu suka cubit dan maki-maki tapi sekarang nahan-nahan diri. Sekarang juga lebih percaya diri dan berani” ketika ibu Jenna menceritakan dampak lain yang dirasakannya setelah mengenal WVI dan hal ini dibenarkan juga oleh salah satu anak ibu Jenna. Beliau berharap pendampingan oleh WVI bisa tetap dilaksanakan karena masyarakat desa telah merasakan manfaatnya.

“BAHAGIA ANAK-ANAK, BAHAGIA PAK UTUT”

Pak Utut adalah seorang RT di salah satu wilayah layanan Wahana Visi Indonesia (WVI) ADP Kubu Raya tepatnya di kecamatan Ambawang, Desa Pancaroba, Dusun Sangku’. Beliau adalah seorang tokoh masyarakat yang lahir dan dibesarkan di desa ini.
Sudah sejak tahun 2013 beliau mengenal WVI ADP Kubu Raya melalui perjumpaannya dengan Adrian Ng, staf WVI yang saat itu bertugas di wilayah ini, karena sering melakukan perkunjungan ke rumah salah satu anak Pak Utut. Perjumpaan inilah yang membuatnya mengenal organisasi dan merasa senang ketika berjumpa dengan anak-anak karena melihat perubahan pada anak-anak desa. Selain itu, dia juga melihat perubahan dari pemuda yang dikenalnya dan anak dari keponakannya yang mengikuti beberapa kegiatan WVI
Sudah lama beliau berkontribusi menyediakan rumahnya untuk menjadi tempat kegiatan anak maupun tempat menginap beberapa staf karena “harus” tinggal di desa.  “Rumah ini dipake karena kita harus memiliki jiwa sosial dan kegiatan ini bermanfaat untuk anak-anak” demikian penuturan Pak Utut
Dulu, di depan rumahnya didirikan sebuah bangunan untuk les komputer bagi anak-anak desa tetapi karena pengajarnya tidak aktif lagi sehingga tidak jalan. Ruangan itu kemudian berubah fungsi menjadi taman bacaan anak atas permintaan salah satu anaknya setelah berdiskusi dengan WVI. Beliau merelakan bagian depan dari halaman rumahnya untuk dibangun taman bacaan anak. Saat ini taman bacaan yang dibangun di halaman rumahnya telah rusak dan sedang dalam proses renovasi namun masih tetap dapat dipergunakan.
Beliau telah melihat ada perubahan karakter anak-anak desa dari yang lebih rajin dibandingkan sebelumnya, pikiran mereka terbuka, dan berkegiatan bersama secara positif (Forum Anak). “saya berharap saat anak-anak mengikuti pertemuan di WVI, masa depan mereka bisa maju. Mereka (WVI) didik anak-anak kita kan bagus.Saya sudah lihat buktinya”  ungkapan Pak Utut di akhir pertemuan kami.
Dulu beliau pernah menyampaikan masukan kepada staf WVI,“Aku ada omong sekali sama Adrian. Kalau bisa kasihlah waktu supaya kita bisa pulang sore. Dulu biasa kita pulang sampai jam 7 atau 8 malam dan ada resikonya (bagi anak-anak)” ungkapnya. Masukan ini sangat baik sehingga WVI mempertimbangkan hal ini saat berkegiatan bersama anak.

Seringnya kegiatan WVI di rumah Bapak Utut ternyata membawa perubahan pula bagi keluarganya, yaitu ponakan dan cucu-cucunya menjadi ramah terhadap tamu dan mau membereskan rumah.

Tulisan ini sudah di upload ke website World Vision International
http://wvi.org/indonesia/article/childrens-happiness-my-happiness

Selasa, 06 Juni 2017

Surat seorang anak untuk ibu

Pontianak, 070617
Pagi ini dalam perjalanan menuju ambawang kumainkan jari jemariku untuk membuka facebook sambil sesekali melayangkan pandang ke jendela berharap bisa tiba sesegera mungkin karena perutku sedang tidak bersahabat dengan perjalanan ini.
Sambil sesekali tertawa kecil melihat postingan lucu di facebook kawan, melihat aktivitas rekan2 sekerja di kabupaten lain yang luar biasa mendedikasikan dirinya untuk anak-anak dan masyarakat. Tiba-tiba rasa penasaran pun menyeruak ketika membaca postingan ini.
Bulan 3, tanggal 8, hari Selasa. Ini adalah hari ibu.
Hari ini aku ingin berterima kasih pada mama, setiap hari sangat sibuk dan bersusah payah.
Awalnya, aku ingin bercerita pada mama, tapi sepertinya mama tidak begitu suka mendengar cerita ku. Terus menatap HPnya. Ini membuat aku sedih. Aku berpikir, mungkin dengan memberikan ucapan-ucapan selamat, mama akan lebih senang.
Jadi, aku mengucapkan selamat hari ibu pada mama, namun mama tetap saja melihat HPnya. Aku semakin sedih lagi. Alu berpikir, cara ini pun tak berhasil, aku coba memijat punggung mama.
Saat mulai memijat punggung, aku berusaha sekuat tenaga, tapi mama tetap saja mama melihat HPnya. Diwajahnya tak ada senyuman. Aku semakin sedih lagi, bersiap mencuci kaki mama ku.
Setelah mencuci kakinya, mama akhirnya tidak melihat HP lagi, hatiku sedikit senang. Aku berusaha mencuci sebaik mungkin. Setelah selesai, aku berharap mendapat sedikit pujian, namun mama malah mengatakan, 'hari ini cuci kakinya lumayan, disiram sedikit lagi sudah boleh." lalu mama keluar dari kamar, sebelum menutup pintu, tidak lupa ia mengatakan, 'jangan lupa menulis diari'.
Inilah cerita sedih ku melewati hari ibu."

Sedih namun inilah realita yang tulus diungkapkan seorang anak tetapi juga sudah menjadi hal yang lumrah di zaman ini.

Kita tidak bisa serta merta juga menyalahkan teknologi komunikasi karena zaman ini akan terus bergerak. Bagaimana kita menyikapinya? Pilihan ada di tangan Anda.

Jumat, 11 November 2016

ToT Pengerja Gereja

Mimpi yang sederhana..
Pekerja yang sederhana...
Diskusi yang sederhana...

Itulah semua semua "kesederhanaan" yang kurasakan saat bersama mitra kerja kami di PGI Komisi Wanita. Mereka hanya bermodalkan hati untuk melayani. Sebuah tekad untuk  menyelamatkan generasi baru gereja dan juga generasi baru bangsa ini. Mereka mencintai anak-anak dan mau melayani mereka. Hal inilah yang menjadi dasar ketika kami membuat pelatihan Menuju Gereja Layak Anak.
Mereka terdiri dari 9 orang terpilih yang telah terlatih dan mengikuti pelatihan di batch sebelumnya. Sekalipun sulit untuk memilih yang terbaik dari yang terbaik namun yang menjadi kendala adalah komitmen mereka untuk mau dilatih dan menjadi pelatih. Tidak mudah memang, mengingat aktivitas gereja yang begitu padat dari masing-masing sinodal. Tapi, akhirnya mereka berkomitmen untuk itu.
Pelatihan ini dibuat semenarik mungkin dan diharapkan bisa menolong mitra kami untuk memiliki keterampilan membawakan materi seperti pelatihan yang mereka telah ikuti sebelumnya. Sekali lagi hati mereka lah yang membuat kami begitu takjub.
Kami mengupayakan untuk dapat menolong mereka dengan buku panduan serta pendampingan. Mengupayakan bahasa yang sederhana tapi pesannya bisa sampai kepada peserta menjadi sebuah tantangan tersendiri.

Revolusi Mental dan Budaya dimulai dari Keluarga

Tak terasa sudah tiga hari kami berada di kota Kenari, kepulauan Alor dengan rekan-rekan staf dan mitra Wahana Visi Indonesia yang berasal dari Nias, Jakarta, Kubu Raya, Sentani, Manggarai, Kupang, Palu dan Sigi. Kehadiran kami di Kepulauan Alor ini memiliki tujuan yang sama untuk belajar bersama menukis etnografi tentang budaya kawin mawin masyarakat pulau Alor yang disebut belis. Konon kami mendengar budaya kawin mawin yang dianugerahkan dan yang diperintahkan oleh Sang Khalik itu justru sekarang sangat memberatkan karena diisi dengan aksi saling baku tipu diantara masyarakat sendiri sejak nenek moyang mereka. Hal ini kemudian membuat biaya pernikahan adat masyarakat Alor menjadi sangat mahal dan mempengaruhi interaksi sosial masyarakatnya. Namun, ada waktu Tuhan yang menggerakkan orang-orangNya dari pemerintah, tokoh adat, dan tokoh agama untuk melakukan revitalisasi budaya (begitu sebutan masyarakat di tempat ini) sehingga belis disederhanakan dengan kesepakatan bersama di 7 rumpun suku masyarakat pulau Alor. Selama tiga hari kami dikarantina di Koperasi Kredit Tribuana Alor untuk belajar tulisan etnografi dan kemudian kami diberi kesempatan untuk mengaplikasikan apa yang kami pelajari bersama dengan melakukan wawancara di masyarakat dari beberapa rumpun suku yang telah melakukan revitalisasi budaya melalui penyederhanaan belis. Seluruh peserta pun dibagi dalam 7 kelompok, dan Sang Khalik membawa tim kami : Bapak Roy Chandra mitra dari WVI ADP Sentani, bapak Ferdinand dari WVI ADP Kupang dan Yoel Setiawan dari WVI Zonal Kalimantan Barat  untuk mengalami perjumpaan dengan Bapak Padamani dari rumpun suku Abui Welai.
Rupanya teriknya cuaca di pulau Alor ini belum juga bersahabat dengan kami sehingga perjalanan untuk bertemu dengan Bapak Padamani membuat kami harus sedikit berkipas-kipas sepanjang perjalanan bahkan selama kami berada di pulau ini. Ruangan Koperasi Kredit Tribuana Alor dan kamar hotel-lah yang dinantikan ketika kami mulai merasa teriknya matahari karena di kedua ruangan ini telah difasilitasi dengan AC.

Tidak sulit untuk bertemu dengan Bapak Padamani karena perjalanan dapat ditempuh dengan mobil selama 10 menit dari Koperasi Kredit Tribuana Alor menuju Mebung. Sebenarnya Bapak Padamani pada hari-hari biasanya ditemui di desa yang berjarak 40 km dari lokasi dimana kami menjumpainya sekarang, namun karena beliau juga adalah seorang pendeta gereja Kemah Injil yang berada tepat di samping rumahnya di Mebung sehingga beliau dan istri “turun gunung” pada hari sabtu dan minggu untuk mengerjakan tugasnya di gereja. Kami bertiga datang dengan ditemani bapak Asa salah seorang staf lokal WVI ADP Alor. Boma menjadi sapaan akrabnya. Boma sangat berperan menemani selama 2 hari kami menginap di rumah Bapak Padamani dalam proses interaksi dengan keluarga Bapak Padamani dan juga koordinasi dengan panitia.


Pada hari sabtu tanggal 5 November 2016, jam di handphone telah menunjukkan pukul 12.20 WITA saat kami tiba di rumah Bapak Padamani di Mebung. Kami disambut oleh Bapak Padamani bersama istri, dan Ibu Selfina yang adalah tetangga sekaligus keponakannya yang merasakan dampak positif revitalisasi budaya penyederhanaan belis. Diskusi pada hari pertama berlangsung di pekarangan rumah beliau sambutan yang hangat dari pihak keluarga dibawah pohon jambu mente. Tak lupa sepiring ubi ungu, sepiring ubi kayu, sepiring rambut, dan minuman dingin menemani diskusi kami. Selain berprofesi sebagai pendeta, Bapak Padamani juga adalah seorang tokoh adat dan kepala desa di Abui Welai. Beliau berusia 63 tahun dan memiliki 5 orang anak. Tiga orang diantaranya tinggal bersama beliau di Mebung dan dua diantaranya berada di Kupang untuk bekerja dan melanjutkan studi. Di rumah ini juga beliau tinggal bersama 2 orang anak angkatnya. Sebagai kepada desa, pendeta jemaat, dan tokoh adat pada kesempatan ini beliau banyak bercerita tentang prosesi pernikahan adat dari masuk minta (pelamaran) atau biasa juga disebut gantung daun-belis-kawin adat dan catatan sipil di gereja-moring, nilai belis dan dampak belis di Abui Welai sehingga mereka menyadari bahwa belis perlu untuk disederhanakan karena sudah memberatkan masyarakat. Proses revitalisasi budaya sendiri telah berjalan sejak tahun 2011 di Welai Lembur. Ada hal yang menarik perhatian penulis sehubungan dengan belis ini, karena sekalipun belis dianggap memberatkan dengan biaya yang mahal, namun suku Abui Welai tidak menghilangkannya tapi menyederhanakan nilai belis karena ada nilai-nilai penghargaan bagi kaum perempuan-atau nona-sebutan bagi perempuan Alor. Hal senada juga disampaikan Ibu Selfina Padamani, keponakan beliau, yang menikah di masa-masa permulaan revitalisasi budaya penyederhanaan nilai belis. Beliau merasakan ada tantangan dari keluarga sendiri ketika nilai belis disederhanakan saat akan menikah karena keluarga menghendaki belis dengan nilai yang sudah berlaku bertahun-tahun di masyarakat perlu diteruskan, tapi Bapak Padamani menganggap bahwa revitalisasi budaya penyederhanaan belis harus dimulai dari keluarga sendiri. Ketika penulis mendengar ucapan ini dari beliau, penulis teringat dengan revolusi mental yang didengung-dengungkan oleh pemerintahan Jokowi. Memang pada dasarnya untuk terjadi perubahan di bangsa ini harus dimulai dari lingkungan terkecil, yaitu keluarga. Untuk terjadinya revitalisasi budaya penyederhanaan belis di rumpun suku Abui Welai memang harus dimulai dari kesadaran dan keinginan keluarga. Tentu tidak mudah untuk mengubah suatu tradisi yang berjalan secara turun temurun, namun selayaknya budaya yang menjadi identitas kelompok masyarakat tertentu seharusnya membuat kelompok masyarakatnya menjadi bermartabat dan lebih sejahtera.  

Gereja dalam Transformasi Budaya

Ada banyak definisi budaya. Ada yang mendefinisikan kebudayaan sebagai alat ilahi, ada juga yang mengatakan bahwa budaya adalah inkarnasi agama. Ada banyak penafsiran tentang hal ini dan mungkin ada persetujuan maupun ketidaksetujuan terhadap hal ini. Namun perlu juga memiliki kerendahan hati penulis.
Penulis bertugas di Kalimantan Barat dengan keragaman suku diantara Melayu, Tionghoa,Madura dan Dayak. Ada satu musibah tahunan yang selalu dialami yaitu kabut asap. Asap tahunan ini memberi dampak bagi penerbangan, aktivitas masyarakat, bahkan ada beberapa staf kami yang mengalami gangguan pernafasan saat hal ini terjadi, dan dampak lainnya. Satu hal yang menarik perhatian penulis saat berkomunikasi dengan beberapa  orang tentang asal muasal penyebab kabut asap  tersebut, ada yang mengatakan bahwa sumbernya adalah penduduk local/masyarakat dayak yang punya kebiasaan untuk membuka lahan dengan membakar karena murah. Ada juga yang mengatakan bahwa perusaahaan sawit yang melakukan, dll. Pada satu kesempatan ada kegiatan kantor yang melibatkan BNPB wilayah Kalbar yang juga adalah orang Dayak yang mengatakan bahwa itu bukan kebiasaan orang Dayak. Ternyata suku dayak memiliki falsafah bahwa rumah mereka adalah hutan, sehingga tidak mungkin mereka akan membakar hutan yang adalah rumah mereka. Beberapa orang juga  membenarkan hal ini. Nilai-nilai yang dianut masyarakat dayak membentuk pola hidup dan kebiasaan mereka.
Yesus pun dibesarkan oleh kedua orang tua Yahudi dan hidup dalam tradisi masyarakat Yahudi yang sangat kental dengan tradisi dan aturan-aturan hokum Taurat. Di masyarakat Yahudi ada orang-orang Farisi maupun ahli-ahli Taurat yang taat dalam menjalankan aturan hukum Taurat. Namun seringkali kita mendapati Yesus berkonfrontasi dengan mereka. Misalkan larangan dari orang Farisi untuk memetik gandum di hari sabat ( Mat 12:1-2), dalam perumpamaan tentang orang Samaria yang merawat musafir yang dirampok dalam perjalanan dalam Lukas 10:25-37, dikisahkan imam dan orang Lewi yang tidak mau merawat karena mereka akan melaksanakan ritual ibadah dimana tidak boleh menyentuh darah menurut adat dan kebiasaan masyarakat Yahudi saat itu. Yesus hadir memberi makna kepada tradisi masyarakat Yahudi tentang siapa yang sebenarnya sesama manusia dari perumpamaan ini.
Jauh sebelumnya pada zaman nabi Yesaya, Tuhan juga menegur umatNya yang melaksanakan ritual agamawi bahkan melakukan puasa dalam Yesaya 58:1-12.

Yes 58:1-12.
Ketika membaca kitab ini, umat Tuhan lupa bahwa hakikat puasa yang diinginkan Allah yaitu menegakkan keadilan (ay.6) dan membagikan berkat kepada orang lain (ay.7,10). Hal ini membatalkan kuasa Allah untuk menjawab doa mereka (ay 8-9,12). Yesaya diminta untuk menyerukan pertobatan ini kepada umat Israel. Dan pada akhirnya janji pemulihan Tuhan akan dikerjakan (ay 10-11).
Sebagai umat Tuhan yang Tuhan tempatkan disuatu wilayah.
Coba renungkan!
Sudah berapa lama gereja dan umat Tuhan hadir di wilayah kita masing-masing!
Sejauh mana gereja dan umat Tuhan melaksanakan ritual ibadah kita?
Namun sejauh mana juga gereja dan umat Tuhan berperan dalam melihat ketidakadilan di masyarakat (ay. 6) dan menjadi berkat bagi orang lain (ay 7,10)!

Bapak Agustinus Aurelius Asamani, sekretaris Dewan Paroki Yesus Gembala yang Baik dari Kalabahi Pantar dalam buku Kutitipkan Damai Untukmu yang diterbitkan oleh Wahana Visi Indonesia mengatakan bahwa  Yesus hidup dalam adat budaya Yahudi, tetapi Dia (Yesus) memberi nilai yang baru terhadap adat budaya Yahudi. Hal ini disampaikannya dalam lokakarya pengurangan belis. Ternyata, sudah 40 tahun budaya belis menjadi budaya yang memberatkan masyarakat Alor dan gereja sudah hadir selama 120 tahun di Alor namun seakan gereja tertidur tidak kuasa menahan kekuatan dendam dan perilaku buruk dalam masyarakat

Kutipan dari buku Transformasi gereja lokal dan masyarakat pada hlm 320 mengatakan bahwa
Gereja adalah jendela yang melaluinya tiap-tiap orang dalam masyarakat Anda melihat Allah dan kepedulianNya terhadap semua bidang kehidupan mereka.


Jumat, 07 Agustus 2015

Festival Praktik Cerdas: Kontribusi Peningkatan Indeks Peningkatan Manusia Kalbar

Berakhir sudah perhelatan akbar Festival Praktik Cerdas kerjasama Wahana Visi Indonesia dengan Bappeda Propinsi Kalimantan Barat yang dilaksanakan pada tanggal 04-05 Agustus 2015 di hotel Kapuas Palace, Pontianak. Kegiatan ini menampilkan praktik-praktik cerdas yang telah dilaksanakan di 11 Kabupaten Kota di Kalbar dan memberi dampak bagi anak, keluarga, dan masyarakat. 
Ternyata ada banyak praktik-praktik cerdas yang telah dikerjakan oleh masyarakat namun kurang diketahui oleh masyarakat luas.
Melihat video dari 11 kabupaten kota ini, ada rasa haru melihat bahwa bukan kebetulan Tuhan menempatkanku di kota ini dan punya andil berkontribusi dalam membangun dan mensejahterakan kota di mana aku telah "dibuang".
Kupikir hal yang sederhana, namun itu yang dibutuhkan untuk masyarakat di Propinsi ini. Mulai dari proyek : Membangun Jamban, sekolah yang berorientasi lingkungan, desa ramah anak dll. Proyek yang telah dan sedang dikerjakan namun memberi dampak besar bagi pembangunan kabupaten dan kota. Dari hasil polling diperoleh praktik cerdas terfavorit yaitu Karang Taruna dari Sambas. 
Karang Taruna ini, memberi dampak di desa mereka sejak didirikan beberapa tahun yang lalu. Pada mulanya dimotori oleh 3 pemuda kampung yang sedih melihat pemuda di kampungnya melakukan kegiatan negatif dan tidak punya kerinduan untuk sekolah. Sekarang Karang Taruna ini telah memberi dampak dalam menghasilkan 70  sarjana di kampung, program bantuan beasiswa, dll. Sehingga mampu merangkul banyak pemuda untuk melakukan kegiatan positif di desa mereka dan banyak yang bisa melanjutkan sekolah.
Bersyukur juga punya sahabat-sahabat sekaligus rekan sekerja yang punya komitmen bersama mengerjakan tugas ini. Membangun kabupaten kota se Kalbar.
Karang Taruna Pemuda Desa Kumpai, Kab. Sambas





Jumat, 19 Juni 2015

Pahlawan Tanpa Tanda Jasa dari Landak

Hymne Guru

Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru

Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku

Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku

Sbagai prasasti trima kasihmu tuk pengabdianmu

Engkau sebagai pelita dalam kegelapan

Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan

Engkau patriot pahlawan bangsa tanpa tanda jasa





Hampir semua orang mengetahui lirik lagu karangan Sartono yang populer di tahun 1980-an ini. 

Kesempatan mengunjungi daerah Sanggau untuk menjadi fasilitator tutor Pendidikan Dasar Usia Dunia (PAUD) membuat saya teringat tentang lirik lagu diatas. Lirik ini menggugah hati saya tentang makna pengorbanan yang sesungguhnya dari seorang guru ditengah maraknya berita yang kurang mengenakkan di bumi pertiwi akhir-akhir ini mengenai kekerasan yang dilakukan oleh "pahlawan tanpa tanda jasa".
Pertama kali bertemu dengan mereka ada kesederhanan dari penampilan dan bahasa untuk menyampaikan kata demi kata. Setelah ditelusuri, ternyata sebagian besar dari mereka adalah seorang ibu rumah tangga.
Bukan orang yang berpendidikan tinggi namun punya modal semangat dan ketulusan hati untuk mengabdi berbekal pelatihan yang diberikan oleh Wahana Pena Emas sebuah organisasi mitra dari Wahana Visi Indonesia yang berada di Kabupaten Landak, Kalimantan Barat. 
Salah seorang peserta bernama Ibu Rosita mengisahkan tentang pengalamannya membuat PAUD pada bulan Oktober 2014 diawali dengan 3 orang anak dan berpindah-pindah mulai dari di dalam rumahnya, halaman rumahnya, halaman gereja, dan akhirnya meminjam gedung desa yang tidak terpakai. Sekarang dia memiliki 27 orang anak siswa.Gedung desa yang tidak terpakai ini dipinjamnya karena melihat jumlah siswa mulai bertambah dan ada ruangan desa yang "menganggur". Dia memberanikan diri untuk meminjamnya, membersihkan, setelah minta sisa semen pembangunan untuk menutupi lantai yang berlubang.
Ada pula yang berkisah yang harus jalan kaki 30 menit untuk menuju gedung sekolah. Gedung PAUD tersebut berada di kawasan yang dekat dengan anak-anak agar mereka tidak kelelahan  dan mudah menuju sekolah tuturnya. Sehingga dia rela berjalan kaki untuk mengajar.
Motivasi mereka untuk membangun desanya, karena mereka menyadari bahwa anak-anak harus mendapat pendidikan layak dan usia tersebut adalah usia penting.Bersyukur untuk kesempatan ini melihat para pahlawan tanpa tanda jasa dari bumi "Adil ka talino, bacuramin ka saruga; basengat ka Jubata"

Kesusteran Laverna
Sanggau, 08-12 Juni 2015


Senin, 25 Mei 2015

TIDAK DIPERHITUNGKAN

Yoh 6:1-14
Banyak mujizat-mujizat penyembuhan yang telah dikerjakan oleh Yesus yang membuat banyak orang berbondong-bondong ingin mengikut Dia. Yang terdata mengikut Yesus saat itu ada kira-kira 5000 orang laki-laki, belum termasuk perempuan dan anak-anak (ay.10) untuk mendengarkan pengajaran Yesus dan memerlukan penyembuhan (Luk 9:11). Masalah hadir ketika hari mulai malam, waktunya untuk makan malam-lagipula dalam versi Lukas 9:12 daerah ini adalah daerah yang sunyi. Tidak ada orang yang ingin kelaparan, bukan?. Agar orang yang banyak itu dapat makan, maka murid menyarankan Yesus untuk menyuruh orang banyak itu pergi ke perkampungan terdekat untuk masing-masing membeli makanan. Para murid juga tidak memiliki cukup uang untuk orang sebanyak itu (ay.7). Dari kumpulan orang yang hadir saat itu ada seorang anak yang memiliki 5 roti jelai dan 2 ekor ikan yang menurut hitungan matematika tidak akan mungkin cukup untuk orang sebanyak itu. Diluar dugaan, 5 roti jelai dan 2 ekor ikan mampu mengenyangkan semua orang yang ada saat itu bahkan setelah dikumpulkan potongan-potongan roti tersebut didapati kelebihan penuh 12 bakul.
Kuasa Tuhan bekerja ditempat itu sehingga 5 roti jelai dan 2 ekor ikan mampu mencukupkan kebutuhan 5000 orang laki-laki tidak termasuk perempuan dan anak-anak. Tuhan memakai seorang anak kecil ini untuk menjadi berkat bagi semua orang yang hadir saat itu. Apalagi dalam konteks saat itu, anak-anak belum bisa diperhitungkan keberadaannya.
Dalam konteks sekarang pun, masih ada paradigma yang berlaku di masyarakat bahwa anak-anak masih belum layak diperhitungkan untuk mengambil peran dan berkontribusi di lingkungan masyarakat. Tetapi Allah juga bisa memakai anak-anak untuk menyatakan kuasaNya.

Pada kesempatan mengunjungi Forum Anak di Kec. Sungai Ambawang, penulis melihat bahwa anak-anak bisa berkontribusi menyuarakan hak-haknya dan perubahan di lingkungan dimana mereka hadir melalui tulisan. Oleh seorang narasumber local yang adalah seorang penulis, anak-anak diajarkan untuk menulis hal-hal sederhana dari kehidupan mereka dan ditolong agar bisa dimuat di koran lokal. Merindukan agar mereka nantinya bisa menyuarakan hak-hak anak bahkan membagikan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka impikan terjadi di wilayah mereka masing-masing. Siapa bilang anak-anak tidak layak diperhitungkan?

DOA YANG DIGERAKKAN OLEH BELAS KASIH

Markus 9:35-38
Kitab Markus menceritakan sebuah kisah Yesus yang telah berjalan berkeliling semua kota dan desa. Ia telah mengerjakan banyak hal dalam perjalanannya mulai dari mengajar, memberitakan firman Tuhan serta melenyapkan segala penyakit. Dengan orang banyak tersebut tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala (ay.36). Yesus menarik kesimpulan bahwa tuaian banyak, namun pekerja sedikit dan mengajar murid-muridNya agar meminta kepada Tuan yang empunya pekerja untuk tuaian itu. (ay 37-38).
Ketika penulis mengunjungi beberapa daerah di Kalimantan Barat ada beberapa kebiasaan masyarakat setempat yang penulis temui tidak sesuai dengan standar kesehatan. Misalkan masyarakat melakukan aktivitas MCK di selokan, rumah yang tidak memiliki WC, minum air tanpa dimasak. Belum lagi masalah sosial lainnya seperti anak SD yang sudah ngelem, akses pendidikan yang sulit ditempuh oleh siswa, dll.

Selain memiliki belas kasih, Yesus mengajar murid-murid untuk berdoa supaya Tuhan hadirkan pekerja untuk tuaian itu kemudian pada akhirnya jika kita melihat bacaan selanjutnya Tuhan memilih dan mengangkat murid-murid untuk mengerjakannya. Mari berdoa supaya Tuhan hadirkan para pejuang dan mitra yang akan melanjutkan pelayanan kita dan juga membuka hati untuk menjadi jawaban doa atas isu-isu sosial di masyarakat wilayah dampingan. Kiranya setiap doa yang kita naikkan adalah sebuah pergumulan bersama masyarakat.
Untuk direnungkan.
Apakah Anda masih memiliki belas kasihan melihat masyarakat wilayah dampingan? 
Ataukah Anda hanya mengerjakan tugas organisasi ketika Tuhan menghadirkan Anda di suatu wilayah layanan?

Penggalan lagu Brikanku hati
Brikanku hati seperti hatiMu yang penuh dengan belas kasihan
Brikanku mata seperti mataMu memandang tuaian di sekelilingku
Brikanku tanganMu tuk melakukan tugasMu
Brikanku kakiMu melangkah dalam rencanaMu
Brikanku… Brikanku… Brikanku hatiMu

KEHADIRAN SAHABAT

Konon, menyenangkan ketika bekerja menjadi staf WaVI karena bisa traveling menjelajahi beberapa daerah di wilayah nusantara, bertemu masyarakat terlebih anak-anak dan melakukan perubahan-perubahan bersama masyarakat. Namun apakah pelayanan WaVI akan selalu berjalan mulus seperti melintasi jalan tol? Ternyata, dalam berproses melayani masyarakat dampingan, tidaklah seperti demikian halnya.
2 Kor 7:5-6
Dari kitab Titus dikisahkan tentang seorang tokoh Alkitab bernama rasul Paulus. Rasul Paulus dikenal sebagai seseorang yang sangat militan dalam melayani. Bahkan, rasul Paulus menjadi penulis ½ + 1 seluruh kitab dalam perjanjian baru. Ada banyak hal yang bisa dibanggakan dari tokoh ini. Namun ketika membaca bagian ini, ada hal yang menarik. Dikatakan : ”Ketika kami tiba di Makedonia, kami tidak beroleh ketenangan bagi tubuh kami. Dimana-mana kami mengalami kesusahan: Pertengkaran dari luar dan ketakutan dari dalam. Tetapi Allah, yang menghiburkan orang yang rendah hati, telah menghiburkan kami dengan……”
Bagaimana cara Allah menghibur??Bukan dengan jaminan kasihNya… bukan dengan  kehadiran Yesus. Tapi, dari bacaan ini dikatakan bahwa Allah menghiburkan kami  dengan kedatangan Titus. Ya, Titus dipakai Tuhan untuk menghibur rasul Paulus.

Ketika berada di Sekadau, penulis melihat rekan sekerja-staf WaVI-yang bekerja keras untuk melayani masyarakat dampingan. Namun rekan-rekan sekerja ini juga memiliki pergumulan masing-masing baik pergumulan dengan keluarga, pergumulan memiliki teman hidup, pergumulan relasi dengan lingkungan tempat tinggal, dll. Bahkan dalam beberapa kesempatan harus mengorbankan hari-hari libur untuk membangun wc dan sanitasi bersama masyarakat.
Ketika pergumulan demi pergumulan mulai datang, Tuhan menghiburkan kita dengan menghadirkan seorang sahabat. Bersyukur untuk sahabat-rekan sekerja yang Tuhan hadirkan di setiap wilayah layanan untuk mengiburkan ketika kesusahan mulai hadir.

Untuk para sahabat yang menghiburkan dari Sekadau.

MENJADI BERKAT BAGI SUKU BANGSA

Yeremia 1:4-8
Adalah tidak mudah bagi seorang Yeremia untuk menjadi nabi pada zaman tersebut. Ia bukan keturunan nabi, melainkan keturunan imam (ay. 1). Ia juga belum fasih berbicara sebab masih muda (ay.6) serta Ia harus memperingatkan bangsaNya akan penghukuman Tuhan di tiga zaman pemerintahan raja dimana tidak semua raja tersebut takut akan Tuhan. Tetapi Tuhan memanggil Yeremia ditengah segala keterbatasan yang dimilikinya untuk menjadi alatNya bagi bangsa Yehuda. Tuhan berkata bahwa Ia telah mengenal Yeremia sejak dari dalam kandungan dan telah menguduskannya serta menetapkannya menjadi nabi bagi bangsa-bangsa (ay.5). Yeremia juga harus pergi kemana saja Tuhan mengutus dan tidak perlu takut karena Ia akan menyertai (ay.7-8).

Sebagai staf WaVI, kita menyadari ada banyak keterbatasan kita. Ada beberapa suku bangsa di wilayah Indonesia, yang Tuhan anugerahkan kepada WaVi untuk dilayani. Tidak semua orang mudah untuk menyesuaikan diri dengan kebiasaan-kebiasaan dan kebudayaan masyarakat setempat. Penulis menyadari benar bahwa setiap staf harus mencoba beradaptasi sedemikian rupa ketika Tuhan tempatkan di setiap wilayah layanan. Tetapi Tuhan memanggil setiap staf untuk menjadi berkat bagi suku-suku bangsa di Indonesia bahkan mungkin bangsa lain karena IA mengasihi semua suku bangsa. Dengan segala keterbatasan kita, Ia berjanji akan menyertai kita.
Sewaktu memasukkan lowongan kerja, penulis yang berasal dari pulau Sulawesi ini tidak pernah membayangkan akan ditempatkan untuk melayani di daerah Kalimantan Barat. Staf lainnya ada juga yang berasal dari Surabaya, Kupang, Jakarta, Medan, Bandung, dll tetapi Allah telah memanggil kami untuk menjadi berkat bagi kota ini.
Bersyukur untuk bagian Firman Tuhan yang menguatkan dan meneguhkan sehingga penulis mengambil keputusan untuk menjadi staf WaVI. Ia mengenal, menguduskan, menetapkan, memerintahkan dan juga akan menyertai penulis bersama seluruh staf mengerjakan pelayanan ini karena IA adalah ALLAH atas seluruh suku-suku bangsa.

Setiap kata perintah dalam firmanNya, selalu diikuti dengan kata penyertaanNya. Sehingga, dimanapun Anda melayani, peganglah janji penyertaanNya sebab Ia adalah setia.

“BERBICARALAH, SEBAB HAMBAMU INI MENDENGAR”

1 Sam 3:10
Samuel adalah seorang anak yang dibesarkan oleh imam Eli untuk melayani Tuhan (ay1.). Dimasa tua imam Eli, pada suatu malam Tuhan memanggil Samuel. Sampai tiga kali Tuhan memanggilnya (ay. 8) namun Samuel masih mengira bahwa imam Eli yang memanggilnya. Akhirnya imam Eli menyadari bahwa Tuhanlah yang memanggil Samuel dan mengajar Samuel jika Tuhan memanggilnya agar berkata: “Berbicaralah Tuhan, sebab hambaMu ini mendengar.” (ay.10). Wajar jika Samuel berespons demikian dalam bacaan ini. Alasannya karena pada masa itu Firman Tuhan jarang, penglihatan-penglihatan tidak sering (ay.1), dan firman Tuhan belum pernah dinyatakan kepadanya (ay.8).

Berbeda dengan keadaan Samuel saat itu, setiap staf WaVI melaksanakan devosi rutin setiap hari sebelum melayani masyarakat. Namun, devosi akan bisa menjadi rutinitas ibadah yang akan terasa hambar dan kepekaan untuk mendengar suaraNya menjadi tumpul jika hati tidak ditundukkan untuk mendengar FirmanNya dalam devosi tersebut.
Sewaktu menuliskan renungan ini, penulis sedang begitu bersemangatnya untuk mengerjakan survey di lapangan dan teman-teman juga sedang sibuk mempersiapkan bahan untuk reporting workshop regional Kalbar. Ada begitu banyak rencana yang sedang penulis telah persiapkan, sampai suatu hari dalam devosi staf, Tuhan mengingatkan penulis melalui bahan ini.
Untuk direnungkan
Ketika aktivitas pelayanan padat….
Ketika melaksanakan devosi setiap hari….
Masih segarkah Anda untuk peka mendengar suaraNya?
Sebelum mendengar firmanNya, berikan hati Anda kepadaNya dan berkata kepadaNya: “Berbicaralah Tuhan sebab hambaMu ini mendengar.”

Indahnya pelayanan ketika relasi kita makin intim dengan Dia!! 

Senin, 18 Mei 2015

Pertama kalinya: Naik Sampan tak terpublikasi

Hari ini, selasa 12 Mei 2015
Diajak sama ADP Kubu Raya sejak minggu lalu utk APR.
Ketakutan ada di benakku sebenarnya tp tetap kuniatkan untuk kejejakkan kaki ke tanah Lingga dalam. Saya tidak tahu berenang dan kesana harus dengan sampan, pikirku bagaimana kalau itu terbalik dsb seperti cerita mengenai Ridwan, salah satu THL mereka.. Tapi demi masyarakat dan mau tidak mau saya harus belajar memberanikan diri karena itulah bumi Kalimantan Barat dimana Tuhan memanggilku dengan kuat.
Awalnya pagi itu kami berencana berangkat jam 12.00 agar tiba di gudang jam 13.00. Hampir saya tak jadi berangkat karena semua kendaraan kantor terpakai, tapi karena saya menawarkan motorku sehingga akhirnya berangkat bersama cici. Tapi mtorku harus diservis dahulu karena baru 2 hari kuambil dari dealer (motor bekas yang kudapat dari melalui bantuan sahabatku Debby). Singkat cerita kami baru mulai berangkat jam 12.30 dan tiba sekitar 13.30 di gudang. Di gudang ini kami harus naik sampan untuk menuju ke lingga dalam menemui 130-an yang telah dijadwalkan untuk ditemui pada pukul 1Di gudang ini kami harus naik sampan untuk menuju ke lingga dalam menemui 130-an yang telah dijadwalkan untuk ditemui pada pukul 14.00. kami terbagi dalam 2 tim. Yaitu tim gudang untuk 37 org anak dan tim lingga dalam untuk 130 org anak.


Sayangnya turun hujan lebat. Namun APR di gudang tetap dilanjutkan, dan kami tim lingga dalam harus menunggu hujan agak reda agar tidak basah barang2 yang telah kami siapkan utk anak. Padahal mereka telah menunggu sejak pukul 13.00. Kami bersama bapak damianus-pemilik sampan yang kami sewa yang juga salah satu kader kemudian menunggu sampai pukul 15.30.
Akhinya kami berangkat sekalipun hujan masih rintik2. Yang ada dipikiran kami kasihan dengan anak2 yang telah menunggu kami-karena ada beberapa diantara mereka yang harus naik sampan lagi untuk menuju lingga dalam.
Untuk diketahui lingga dalam hanya bisa ditempuh dengan perjalanan melewati air sungai. Kami melewati daerah tsb selama 30 menit. Rasa takut ada dalam pikiranku apalagi ini adalah sungai yang dalam---belum lagi kalau ada buaya (konon katanya tidak perlu disebutkan kata buaya agar tidakmuncul) ditambah lagi saya tidak tahu berenang. Sekali-kali sampan kami harus mati mesinnya, akupun tak tahu kenapa bisa seperti itu. Sekali-kali muncul gelondongan kayu yang menabrak sampan kami (kebiasaan masyarakat kayu yang akan mereka jual didistribusikan dari hutan melalui air dan dirakit menjadi saling berhubungan disepanjang sungai). Aku juga membawa pelampung yang kumasukkan dalam tasku namun karena malu tidak kupakai selama perjalanan keberangkatan tersebut. Memang tidak bisa kusembunyikan rasa takutku. Sampai2 teman2 mentertawakanku karena berulangkali kutanyakan tentang buaya dan mereka melihat responku sepanjang perjalanan tersebut jika sampan kami bergerak-gerak).
Akhirnya kami tiba pada pukul 16.00. Ternyata mereka masih menunggu kami. Senangnya hati ini bisa sampai. Tidak hanya karena bisa melewati ketakutanku tadi, namun juga senang karena antuasiasme masyarakat dan anak2. Walaupun ada beberapa anak yang telah pulang dengan alasan lama menunggu. Tapi tidak apalah bagiku.
Kami tiba di sebuah gereja katolik dan mulai melakukan aktivitas APR. Ada anak2 yang mewarnai, dibagikan helm-yg pikirku untuk apa juga mereka dapatkan karena mereka menggunakan transportasi sungai, mengisi form perkembangan mereka selama setahun dengan didampingi agar tidak salah, ada juga yang mendapat celengan. Dan yang terakhir mereka dibagikan snack bersama botol minuman. Semua aktivitas kami terselesaikan pada pukul 18.30.
Sekarang saatnya pulang.
Ternyata sudah gelap. Awalnya mesin kami sempat mogok, yang membuatku agak kuatir. Sambil bapak Damianus menyalakan mesinnya kunaikkan doa kepada Sang Pemilik hidup untuk menyertai perjalanan pulang kami. Sejak awal saya telah memakai pelampung untuk mengurangi ketakutanku. Namun ketakutanku dengan buaya tetap menghantui karena sudah gelap dan bapak Damianus seringkali mengarahkan senternya ke kiri, ke kanan, ke depan, ke belakang sepanjang perjalanan kami. Kupikir menu yang empuk bagi buaya bila kami bertemu. Tapi puji Tuhan kami bisa tiba di gudang pukul 19.00.

Setelah berpamitan dengan kader di lingga dan berkemas-kemas kami berangkat jam 19.30 dan tiba di rumah makan Chinese sebelum ke kantor Kubu Raya pukul 20.30. Kami tiba ke kantor dan langsung pulang ke rumah. Rasa senang dan syukur kunaikkan bisa tiba di rumah dengan selamat mengalahkan keletihanku di sepanjang hari itu. Dan baru kusadari, saya tidak sempat mendokumentasikannya dalam foto walaupun kutahu belum lagi kutahu kapan saya akan kesana. (Kata Noker-salah satu THL kami dia sempat memanggilku sewaktu di sampan. Mungkin karena ketakutanku, saya sudah tidak mendengarnya lagi)


Itulah kisah Lingga dalam, 120515 bersama Vonny Katuuk, Noker, ibu Kader, Bapak Damianus bersama anaknya.

Rabu, 29 April 2015

Kelompok Belajar Anak, Ds Pantok Nanga Taman, Sekadau


09-10 April 2015
Tgl 09 april berkunjung ke kelompok anak St.Lucia di kab. Sekadau ds. Pantok kec. Nanga tama. Jumlah anak ditempat ini kurang lebih 30 org. Mereka anak desa yang jg kurang mendapat perhatian terutama pendidikan karena akses kendaraan yg msh sulit. Orang tua mereka sebagian besar berladang karet dan jg tidak berpendidikan tinggi. Sehingga, di tempat ini mereka bisa belajar banyak hal.
Akses kendaraan ke daerah ini 6,5 jam dari kota pontianak dan harus ditempuh dengan motor.. Kerinduan mereka memiliki buku2 bacaan..
Ada beberapa proyek yg dikerjakan bersama masyarakat di daerah ini yaitu pembuatan jamban (sebgn besar blm memiliki) dan pipanisasi (utk air bersih). Seringkali tmn2 hrs menginap bersama masyarakat utk mendampingi mereka.
‪#‎salut‬ dengan tmn2 ADP sekadau yg mau mendampingi daerah ini.

Penyuluhan Narkoba, 24-25 Maret 2015

24 Maret 2015

Hari ini mengikuti penyuluhan narkoba untuk anak-anak kelas 4-6 SD di salah satu sekolah. Pesertanya kurang lebih 200 org dan anak-anak ini sulit untuk diam mendengarkan pemateri dari BNN, Puskesmas, dan ktr Polisi (maklumlah anak-anak SD). Ada pula yang berkelahi saat materi--salah satu kekacauan dari anak2 ini.

Baru saja di SD ini ditangkap 2 anak karena nge-lem. Banyak anak didaerah ini yang mengaku melakukan hal ini di sekolah mereka.
Rasanya tidak banyak yang bisa kami lakukan dan terlalu banyak pekerjan untuk generasi bangsa ini. Tapi setidaknya ada hal yang bisa kita perbuat untuk mereka. 

‪#‎anak‬-anak masa depan untuk Indonesia yang lebih baik.

25 Maret 2015
Penyuluhan bahaya narkoba di sekolah yg lain. Kali ini murid-muridnya lebih tenang dan teratur karena tim dr puskesmas, BNN, polisi, wvi lebih banyak dr kmrn. Kelas pun dibagi 2 bgn spy lebih mudah prosesnya. Dengan peserta 160 an org anak. Banyak jajanan murah di jajakan ternyata mengandung narkoba. Kata polisi ngelem jg menjadi brg yg murah bg anak2 krn patungan utk membelinya. Inilah secuil gambaran mereka penerus bgs ini kelak. Pedulikan mereka. 
‪#‎untuk‬ Indonesia yg lebih baik.



Kamis, 19 Maret 2015

Kisah ke Gunung Benoa

Hr ini mengunjungi gunung benoa-ADP Kubu Raya. Sekitar sejam perjalanan darat dgn kecepatan 80-100 km/jam. Anak2 di daerah ini tdk mendapat pendidikan yg layak. Tiap hr berjalan kaki 14 km pp utk sekolah tp gurunya hanya mengajar 3 jam. Untuk itu, masyarakat setempat membuat kelompok belajar di daerah ini. NampHr ini mengunjungi gunung benoa. Sekitar sejam perjalanan darat dgn kecepatan 80-100 km/jam. Anak2 di daerah ini tdk mendapat pendidikan yg layak. Tiap hr berjalan kaki 14 km pp utk sekolah tp gurunya hanya mengajar 3 jam. Masyarakat setempat membuat kelompok belajar di daerah ini. Anak2 ini, sekalipun jauh dan panas terik berjalan kaki tetap antusias utk belajar. Dengan tenaga pengajar hanya 4 org yg terdiri dari ibu rumah tangga, bangunan fisik seadanya, serta perlengkapan yg terbatas mereka mengajar 90 org anak. Kesempatan ini mengajak mitra meninjau daerah ini utk membantu mnjd tenaga pengajar. #160315

‪Sepenggal‬ kisah survey manajemen keuangan masyarakat menyusuri desa Lingga


Mengunjungi sebuah daerah di desa Lingga Kab. Kubu Raya menyeberang sungai.
Merasa bahagia melihat seorang ibu yang buta huruf tapi mau berjuang agar anak-anak di desanya bisa mendapat pendidikan yang baik dan mendapat pelayanan kesehatan.
Konon dulunya ibu-ibu seberang sungai "menggosipkan" bahwa anak-anak di desa mereka akan dijual keluar negeri namun ibu ini setia untuk memberi penyadaran kepada orang-orang di desanya.
Sekarang, di desa ini sekalipun beberapa orang tua mereka buta huruf namun anak-anak mereka bisa merasakan hidup yang lebih 
baik. Berharap anak-anak mereka akan mengubahkan keluarga mereka masing-masing dan desa ini...
#11 Maret 2015